Mengenai Saya

Foto saya
Hidup adalah untuk berkarya. Memotivasi diri sendiri dan orang lain. Menjadi inspirasi bagi orang lain. Menjadikan oranglain jadi inspirasi.

Rabu, 09 Februari 2022

Mengapa ku mencintaimu? (part-9)

 


Senang, bahagia, sedih, lelah, lega semua rasa bercampur. Senang dan sangat bahagia yang kurasakan bisa berjumpa denganmu. Seseorang yang sudah lama dirindukan. Sedih saat berpisah denganmu. Aku kembali kepada keheningan, kesepian dan kesendirianku.

Lelah iya juga. Berusaha menenteramkan hati dan jiwa saat akan bertemu dan berpisah denganmu. Berusaha menenangkan jantungku yang berdetak kencang tak karuan saat berada disampingmu. Berusaha menguatkan tubuhku melewati macetnya ibukota, menahan cuaca panas terik, menikmati perjalanan dari satu titik ke titik yang lain.

Lega dan bersyukur mendengar dikau tiba dengan selamat. Lega akhirnya bisa berkomunikasi secara langsung denganmu. Puas hatiku menyaksikan secara nyata seseorang yang selama ini yang hanya berjumpa di udara dapat bertemu secara fisik.

Beberapa jam bersamamu sangatlah berarti bagiku. Kehadiranmu memberikan semangat hidup bagiku. Keberadaanmu telah menjawab sebagian harapan yang kudambakan selama ini. Kesempatan mengenalmu menguatkanku melewati segala kesepian dan kesendirianku. Apakah ini Cinta? Ntahlah.... 

Itulah misteri perjalanan hidup. Bagaimana kelanjutan kisah ini aku pun belum tahu. Dalam keheningan itu aku merenung. Bertanya kepadaNya dalam doaku. Apa yang sedang dirancangNya atas pertemuan kita. Dia tidak menjawabku pada saat itu. Namun kurasakan ketenangan dan damai meskipun dalam kesendirianku.

Aku berserah padaNya yang memberikanku hidup. Mensyukuri segala sesuatu yang diijinkanNya terjadi atas kita. Mensyukuri kesempatan yang diberikanNya kepada kita untuk saling mengenal satu dengan yang lain. Menaruhkan segala harapan hanya kepadaNya.

“Selamat beristirahat yah. Selamat malam. Semoga mimpi indah...!”. Sms terakhirku padamu, hingga aku terlelap dalam tidurku. Berharap semoga aku juga mimpi indah tentangmu.

 

Bersambung....

Selasa, 08 Februari 2022

Mengapa ku mencintaimu? (part-8)

 

Masih tersimpan fotomu kala itu

Dalam kesendirianku didalam bus ada beberapa pertanyaan yang timbul dalam benakku. Aku penasaran bagaimana penilaianmu terhadapku selama beberapa jam pertemuan kita.

Memang tidak pernah kita berdua serius berbicara satu dengan yang lain walaupun kita sudah saling kenal sebelumnya. Sekedar say hello saja ketika kita sama-sama hadir dalam setiap kegiatan TFT di Medan pada masa itu. Keseringan kita saling bercerita ketika bersama dengan teman-teman tim yang lain.

Jadi pertemuan ini memang seperti pertemuan pertama bagiku berbincang serius denganmu. Mengenalmu lebih dalam. Mengenal kampung halamanmu. Mengetahui keluarga dan saudara-saudaramu. Memahami pekerjaanmu. Melihat dan mengamati cara bicaramu. Menyaksikan tawa dan lesung pipimu yang unik. Hahahaaa.

Namun keberanian dan pengorbananmu datang menjumpaiku ke ibukota hanya dalam hitungan jam membuatku salut dan sekaligus penasaran denganmu. Sebegitu seriusnya dirimu mencari calon teman hidup. Aku merasa tidak ada yang istimewa dengan diriku. Dan bahkan aku sebenarnya orangnya tidak pedean berkenalan dengan laki-laki. Karena aku merasa tidak punya apa-apa untuk diandalkan.

Padahal sebenarnya menurut ceritamu adanya beberapa cewek cantik yang kamu taksir selama ini. Posisinya tidak jauh masih sama-sama di kota yang sama denganmu. Dan menurut pengamatanku diantara satu tim kita sepertinya ada teman cewek yang naksir padamu. Yang jelas bukan aku. Sering aku menggodamu. Ketika kita telponan aku coba memotivasimu supaya berusaha mendekati cewek-cewek itu. Manatau dia adalah jodohmu ya kan. Daripada mikirkan yang jauh yang tidak pasti dan susah dijangkau ya kan. Hahahaa...

Ntahlah. Tak tau aku apa alasanmu mau menjumpaiku ke kota yang jauh. Padahal dirimu sudah tahu dengan jelas bahwa aku sedang kuliah dan masih banyak impianku. Kalau dipikir-pikir memang tak habis pikirlah aku pada saat itu.     

Lamunan dan hayalan silih berganti dalam pikiranku. Hingga tak terasa bus Damri yang aku tumpangi sudah tiba di terminal Pasar Minggu. Begitu turun dari bus hari sudah gelap rupanya. Begitulah memang kondisi ibukota. Kalau tidak macet bukan Jakarta namanya. Di jalan tol pun bisa macet berkepanjangan. Apalagi lah setelah keluar jalan tol. Tapi begitu pun aku sudah terbiasa dengan kemacetan Jakarta. Kesabaran dan emosi benar-benar diuji.

Aku pun segera mencari angkutan umum yang menuju Depok. Kota dimana aku mencari rejeki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan kuliah. Sudah lewat jam makan malam. Perut terasa lapar. Namun aku harus banyak bersabar di dalam angkutan hingga tiba di kos. Aku membelikan sebungkus nasi di warung dekat kos karena sudah tidak sempat lagi masak.

Masih sebentar aku tiba di kos. Ponselku berdering. Ternyata dirimu memberitahukan sudah tiba di Bandara Polonia Medan dengan selamat. Wah cepat juga yah. Hampir bersamaan waktu kita tiba di tujuan. Dikaupun melanjutkan perjalanan ke kosmu dengan sepeda motor mu yang parkir selama satu malam di bandara.

 

Bersambung....

 

 

 

 

Minggu, 06 Februari 2022

Mengapa ku mencintaimu? (part- 7)

 


Cepat sekali rasanya waktu itu berlalu. Tidak terasa dirimu akan kembali pulang ke kotamu. Kita segera beranjak menuju pintu keluar TMII. Walau hati ku sebenarnya masih ingin bersamamu. Tapi apa daya waktu tak bisa kita undur.

Dari depan TMII kita naik angkutan umum menuju terminal Kampung Rambutan. Dari sana kita berangkat dengan menggunakan bus Damri khusus tujuan bandara Soeta. Sepanjang jalan kita lanjutkan perbincangan tentang komitmen kita selanjutnya untuk terus menguji hati dan menggumulkan dalam doa-doa kita.

Akhirnya tiba jugalah di bandara. Tepat waktu. Ada sedikit kuatir tadi takut terlambat karena kemacetan ibukota tidak bisa diprediksikan.

Tanpa menunggu berlama-lama lagi dirimu harus cek in sejam sebelum keberangkatan. Kita bersalaman. Aku melepas kepergianmu dengan satu senyuman. Memandangimu memasuki pintu masuk ruang cek in hingga tubuhmu pun tak terlihat lagi.

Aku segera membalikkan tubuhku menuju halte bus Damri. Beberapa saat aku duduk termenung di sana. Ada rasa sedih yang kurasakan setelah melepas kepergianmu. Ntah kenapa. Apakah aku sebenarnya berharap banyak akan kehadiranmu dalam hidupku? Sehingga berat rasanya berpisah denganmu? Meskipun kita masih status teman biasa, tapi rasanya sosokmu telah mengisi kesepianku hari demi hari selama beberapa bulan terakhir ini.

Bus yang aku tunggu pun akhirnya datang. Aku kirim sms mengabarimu bahwa aku sudah di dalam bus menuju pulang. Sementara dirimu masih di ruang tunggu menunggu keberangkatan pesawat.

Aku pun harus segera berangkat kembali ke kos. Jarak yang lumayan jauh dari bandara dan macetnya ibukota membuatku tidak bisa berlama-lama di bandara. Sepanjang jalan di dalam bus, aku hanya teringat akan semua kebersamaan kita. Air mataku jatuh juga membasahi pipiku karena sedih yang tak tertahan setelah berpisah denganmu.

Berharap akan ada lagi waktu untuk bertemu denganmu. Walaupun sebenarnya hati ini sudah tak sabar mengungkapkan untuk menjadikanmu sebagai teman spesial. Aku harus bersabar. Menunggu waktu yang tepat. Sesuai kesepakatan kita. Menguji hati menguji perasaan.

Ya. Lebih sungguh lagi menggumulkan dalam doa. Bertanya pada Tuhan. Apakah dirimu sosok yang sedang dipersiapkanNya menjadi calon teman hidupku? Aku tidak tahu. Biarlah waktu yang akan menjawab dan membuktikannya.

Aku pun tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Tidak mau terlalu dini menyimpulkan tentang perasaanku padamu. Kita sudah sama-sama dewasa. Sudah cukup umur untuk membentuk rumah tangga. Tujuan kita bukan lagi untuk mencari pacar. Impian kita adalah mencari teman yang mau hidup bersama hingga maut memisahkan.

Sms mu membuyarkan lamunanku. Dirimu memberitahukan bahwa pesawatmu akan segera lepas landas. Aku berdoa kiranya Tuhan melindungi dan memberi keselamatan padamu. Sampai nanti kita akan bersua lagi.

 

Bersambung.....

Jumat, 04 Februari 2022

Mengapa ku mencintaimu? (part- 6)

 


Tanpa menunggu berlama-lama, kita segera melanjutkan perjalanan sesuai rencana yang sudah kita sepakati. Satu buah taksi mengantarkan kita sampai di depan pintu masuk TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Ya, ditempat inilah kita bicara agak serius menindaklanjuti perbincangan kita selama ini melalui email, telpon, dan sms.

Saat kita berjalan memasuki pintu masuk TMII, ingin rasanya seperti pasangan-pasangan yang romantis. Berjalan sambil bergandengan tangan, wuhuiii gimana rasanya itu yah. Tapi tidaklah, aku berusaha untuk membatasi diri, karena bukan mukhrim. Kita hanya teman biasa. Dan juga etika berteman yang sama-sama kita pahami tidak diperkenankan untuk kontak fisik meskipun hanya sebatas bergandengan tangan.

Tidak banyak yang kita lakukan di sana karena waktumu sangat terbatas. Kita hanya melihat-lihat bangunan megah keong mas yang merupakan icon khas dari TMII. Beberapa saat kita mengamat-amati dan mengelilingi bangunan itu serta menyempatkan diri sebentar untuk mengabadikan pertemuan kita di sana.

Ketika jam makan siang sudah tiba, kita coba mencari tempat makan dilokasi TMII. Kita beranjak menuju restoran KFC yang ada di sana. Karena itu tempat makan yang terdekat, sekaligus juga mencari tempat yang nyaman supaya kita bisa berbincang-bincang.  

Kulihat wajahmu sepertinya kurang suka makan di sana. Apakah karena menunya kurang cocok atau alasan lain aku tidak tahu. Tetapi itulah tempat makan yang terdekat di sana. Disamping juga ada tempat duduk yang nyaman bagi kita untuk saling bercerita. Tidak terlalu rame pengunjungnya.

Setelah kita duduk dengan nyaman, beberapa saat aku coba menunggumu untuk mengorder makanan untuk kita. Namun tidak ada tanda-tanda. Padahal aku sudah merasakan lapar dan juga sangat haus. Cuaca panas di siang hari sangat begitu menyengat.

Akhirnya aku lah yang berinisiatif. Dengan terpaksa, walaupun agak sedikit kesal. Segera aku pesan makanan kita ke meja customer. Setelah membayar lalu membawa makanan minuman ke meja kita. Kekesalan hati itu aku coba singkirkan sejauh mungkin. Tetap berpikir positif saja.

Dalam hatiku seharusnya laki-laki lah yang berinisiatif untuk memesan makanan dan membayar dengan uangnya. Ini malah aku pula yang melayani dia. Uang ku pun tidak seberapa. Tapi ya sudahlah. Dia adalah tamu ku. Setidaknya aku coba berusaha memberikan yang terbaiklah.

Setelah berdoa bersama, kita menyantap makanan minuman sambil berbincang-bincang ringan. Topik selanjutnya yang kita diskusikan adalah tentang pesan-pesan email yang telah kita kirim selama ini. Mempertegas maksud dari setiap pesan yang kita sampaikan melalui email.

Kita saling bercerita tentang perjalanan doa kita. Setelah sekian lama kita berkomitmen untuk serius berdoa menguji hati dan menguji perasaan. Selain itu juga mempertegas tentang kriteria pasangan yang kita harapkan. Mempertegas tentang rencana-rencana masa depan yang kita planningkan masing-masing. Kondisi keluarga besar kita juga menjadi topik yang kita bicarakan saat itu.

Kita lebih banyak saling menceritakan tentang kehidupan kita masing-masing. Tentang pekerjaan, kesibukan, dan juga pelayanan masing-masing yang kita kerjakan. Salah satu impian kita adalah mencari calon teman hidup. Itulah memang yang sedang kita gumulkan bersama-sama.

Hingga perbicangan kita selesai karena keterbatasan waktu, tidak ada keputusan spesial yang kita buat. Kita tetap masih sebatas teman. Kita memutuskan untuk terus menguji hati dan perasaan sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Walaupun saat itu aku sebenarnya sudah sangat ingin mendengar dan menyaksikan dikau melamarku jadi pacarmu. Seperti di sinetron-sonetron, si pria akan melamar si wanita dengan sebuah cincin... Iiiihhh..itu pasti so sweet. Aku tunggu-tunggu moment itu. Sampai habis waktu kita tapi ternyata tidak ada juga terucap darimu.

Walaupun hanya keinginan dalam hatiku, aku jadi malu dengan diriku sendiri. Terlalu cepat berharap. Tapi tidak apa-apalah. Aku sangat menghargai keputusanmu. Tidaklah secepat itu untuk membuat keputusan. Kita masih memerlukan waktu yang lebih lama untuk menggumulkan dan menguji perasaan. Apalagi kita pun tidak terlalu dalam mengenal satu dengan yang lain.

It’s okay. Kesimpulan hasil diskusi kita adalah kita masih butuh waktu untuk menguji hati dan perasaan kita. Masih sebatas teman.

Oleh karena waktu mu sangat terbatas harus segera berangkat ke bandara, maka kita mengakhiri perbincangan kita. Kita menutup dalam doa. Mendoakan perjalananmu dan mendoakan kita masing-masing untuk lebih serius menggumulkan dan menguji hati kita.

 

Bersambung ........

Senin, 31 Januari 2022

Mengapa ku mencintaimu? (part- 5)

 

Gbr. Kala itu dinding kamar kosku di Depok

Hahhh..akhirnya bisa merebahkan diri hampir mendekati jam 1 malam. Lumayan melelahkan seharian tetapi hatiku sangat senang dan bahagia tak terkira. Bertemu dia yang sangat kurindukan. Cepat sekali rasanya jam ini berputar. Hari ini bertemu besok sudah berpisah lagi. Hiikkkssss... Tapi apalah daya banyak hal yang membatasi kebersamaan kita.

Walaupun tubuh telah rebahan tetapi hati dan pikiran masih melayang-layang memutar rekaman memori moment pertemuan kita hari ini. Mengingat kembali setiap detik yang kita lalui sejak pertemuan di bandara. Menyenangkan sekali rasanya. Nyaman berdua denganmu. Duduk disampingmu. Tertawa bersama. Melihat senyum manismu dan lesung pipimu. I miss that moment.

Aku masih memikirkan dirimu. Sudah tidurkan dia? Atau seperti dirikukah masih terbayang-bayang kebersamaan kita sejak sore tadi. Semoga dia tidur nyenyak dan mimpi indah. Begitulah kata hatiku sambil membayangkan sosok dirimu. Menjelang dini hari mataku baru bisa terpejam setelah benar-benar lelah mengingat detik demi detik yang kita lalui hari ini.

Pagi-pagi di hari Minggu kita bangun cepat dan bersiap-siap untuk beribadah ke gereja yang dekat sekret Paksu HKBP Cawang. Jadilah kita ibadah bersama di sana. Hatiku sangat senang bisa mengawali pagi dengan ibadah bersamamu. Walaupun agak sedikit kurang fokus karena canggung dan sedikit grogi duduk berdampingan denganmu. Setiap kali aku harus berusaha menenteramkan hatiku dan menenangkan jantungku yang berdetak tak menentu. Kapan ada lagi moment seperti ini? Begitu terucap dalam hati.

Selesai serapan di pinggir jalan terowongan seberang kampus UKI, kita menuju rumah sakit Cikini menggunakan taksi. Adek teman SMAmu sedang opname dirawat di sana. Salut aku dengan kepribadianmu yang memiliki empati dan kepedulian kepada orang lain. Selain menjenguk juga sekaligus mau reuni singkat dengan sahabatmu yang sudah lama tidak bertemu sejak kalian tamat SMA di Pematang Siantar.   

Aku sendiri paling enggan dan segan berkunjung ke rumah sakit. Aku orangnya sangat sulit berkata-kata kepada orang sakit memberi penguatan. Sulit bercerita. Tidak tahan berlama-lama di dalam ruang pasien karena rasa iba dan sedih yang sulit kutahan melihat pasien yang terbaring lemah. Juga tidak suka dengan aroma rumah sakit yang bisa membuatku mual.

Jadi waktu itu aku hanya sebentar betah di dalam ruangan melihat kondisi adek temanmu yang terpasang infus. Tidak berapa lama aku keluar ruangan mencari udara segar dan menunggumu di luar.

Beberapa saat kemudian, dikau keluar dan menghampiriku dengan wajah penuh pertanyaan seperti ada sedikit kecewa. Mungkin dirimu merasa bahwa aku begitu cuek dan tidak perduli. Dirimu menanyakanku kenapa aku keluar sendirian dan tidak mau menunggu di dalam ruangan. Aku jawab karena aku tidak tahan dengan kondisi didalam ruangan yang membuat aku nyesak. Lalu dirimu mengajakku untuk ikut kembali ke dalam ruangan untuk berdoa dan pamit.

Selepas meninggalkan ruangan dirimu bercerita sebentar dengan sahabatmu sambil kita melangkah menuju pintu keluar rumah sakit. Mungkin temanmu ada menduga bahwa kita adalah teman spesial, sehingga kata terakhir yang dia sampaikan adalah “ditunggu undangannya yah”. Hahaaaa....sontak aku tertawa mendengar itu. Dalam hatiku sedikit curiga cerita apalah dirimu kepada sahabatmu tadi saat kutinggal di dalam ruangan ya? Kog sepertinya gimana gitu ya kan? Karena aku tidak ingin terlalu membawa perasaan, kita hanya teman biasa.

Duhhh..tak terasa waktu terus berlalu. Tinggal beberapa jam lagi kebersamaan kita akan berakhir. Sebenarnya aku merasa sedikit kurang enak ketika dirimu memutuskan untuk sebentar berkunjung ke RS dan sekaligus menjumpai sahabatmu. Seharusnya dirimu memprioritaskan seluruh waktumulah untuk ku. Begitu pikiranku. Karena waktumu yang sangat singkat dan terbatas. Masih banyak hal yang perlu kita bicarakan sebelum dirimu kembali ke Medan. Apakah pertemanan kita ini akan dilanjutkan lebih serius atau tidak? Itu pertanyaan yang menurutku harus ada jawaban hari itu.

Namun ku berusaha menahan egoku. Tak apalah. Kita kan masih sebatas teman biasa. Sah-sah saja dirimu membuat keputusan tanpa meminta pertimbangan dariku. Sehingga aku menuruti keinginanmu untuk pergi ke RS. Dari sikapmu aku sebenarnya senang dan kagum karena dalam keterbatasan waktumu masih sempat memikirkan untuk bertemu sahabatmu meskipun sangat singkat waktunya. Dan juga rasa prihatin dan empatimu ingin melihat kondisi adeknya, memberikan sedikit Rp untuk membantu mereka, serta mau mendoakan kesembuhannya. For me itu sangat luar biasa.

 

Bersambung......

Sabtu, 29 Januari 2022

Mengapa ku mencintaimu? (part- 4)

 


“Kabar baik Mon”, dengan tersenyum dan sedikit salah tingkah aku membalas pertanyaanmu. Ntah kenapa aku agak sedikit grogi begitu. Aku mengajakmu untuk duduk sebentar dan memperkenalkanmu kepada teman kuliahku. Aku lirik wajahmu sepertinya ada respon yang agak gimana gitu yah. Hahaaa... Ntah apa yang ada di dalam pikiranmu saat itu, aku tidak tahu.

Sedikit agak kurang enak jadinya perasaanku melihat raut wajahmu yang sedikit menyimpan kecurigaan. Aku sih berpikir positif saja dan membiarkan rasa curiga itu menyerang hatimu. Hahaaaa...Iya dong kan. Barangkali jadi satu indikasi apakah ekspresimu itu karena ada cemburu atau apalah. Aku sih tetap berusaha bersikap biasa saja.

Tanpa berlama-lama lagi, aku pamitan dengan teman kuliahku itu. Kita melangkah perlahan menuju halte bus Damri. Selama beberapa saat kita menunggu bus Damri yang menuju cawang UKI. Tujuan kita adalah kesana. Numpang menginap satu malam di sekretariat Paksu yang masih dekat ke kampus UKI. Karena tidak mungkin dirimu menginap di kos ku. Apa kata dunia nanti ya kan.

Sebelumnya juga aku berpikir apakah sebaiknya dirimu akan menginap di tempat keluarga. Akhh..tidak usahlah, jadi panjang nanti ceritanya. Tidak enak juga aku sama saudara jika membawa seorang laki-laki yang hanya teman biasa. Kuatir jadi bahan pergosipan nanti di tengah keluarga. Dan akhirnya aku memutuskan untuk membawamu ke sekret Paksu karena di sana ada teman-teman persekutuan yang bisa kita ajak ngobrol.  

Tidak terlalu lama menunggu akhirnya bus yang kita tunggu pun datang. Saat sudah masuk ke dalam bus syukurlah ada pasangan kursi yang kosong. Sehingga kita bisa duduk berdampingan. Hal ini juga yang kupikirkan selama kita menunggu di halte. Berharap ada sepasang kursi yang kosong yang pas untuk kita berdua. Jikalau tempat duduk berjauhan repotlah itu dan sepertinya gimana gitu ya kan hahaaaa....

Aduhhh...grogi bercampur senang dan segala rasa berkecamuk di dalam hati saat duduk berdampingan denganmu. Aku coba berusaha tidak menuruti perasaanku. Meskipun status kita hanyalah teman biasa namun sebenarnya ada rasa rindu yang sudah lama tersimpan di dalam hati. Karena ini masih tahap menguji hati, jadi aku coba tetap bersikap biasa tanpa ada sesuatu yang spesial.

Aku berusaha bersikap biasa saja duduk di sampingmu dan menjaga jarak supaya tidak terlalu rapat. Sepanjang perjalanan kita berbincang-bincang tentang banyak hal. Aku coba menenangkan hati dan mendiamkan getaran jantungku yang berdegup kencang setiap kali bahuku atau tanganku bersentuhan denganmu. Ingin rasanya bersikap romantis seperti cerita sepasang kekasih dalam sinetron. Namun aku tidak mau bersikap berlebihan dan tetap berusaha membatasi diri.

Saking asyiknya mengobrol tidak terasa tujuan kita hampir sampai. Aduh cepat sekali begitu kata hati. Masih ingin berlama-lama duduk berdampingan denganmu. Namun aku tepiskan segala perasaan dalam hatiku dan menganggapmu hanya sebagai teman biasa.

Sudah menjelang malam kita tiba di daerah cawang. Kita belum makan malam. Perut sudah terasa lapar. Kita tidak makan di tempat makan. Kalo aku tidak salah ingat waktu itu kita membeli nasi goreng gerobak dipinggir jalan menuju sekretariat Paksu. Mengingat waktu sudah terlalu malam, segan nanti sama kawan yang tinggal di sekret Paksu jika kita datang terlalu malam. Akhirnya nasi gorengnya dibungkus dan akan kita makan setelah tiba di sekret Paksu.

Terlalu malam memang kita tiba di sana. Tapi kekmanalah kemacetan ibukota tidak bisa terhindarkan. Beruntung saja teman yang disana masih sabar menunggu kita. Setelah makan malam dan ngobrol-ngobrol tentang planning kita untuk besok harinya, masing-masing kita merebahkan diri untuk beristirahat.

 

Bersambung....

Jumat, 28 Januari 2022

Mengapa ku mencintaimu? (Part-3)

 


Sembari menunggu bercampur rasa penasaran apakah dikau beneren akan datang, aku coba berpikir-pikir selama beberapa hari sampai hari itu tiba. “Kira-kira kenapa yah dia harus paksakan diri untuk datang? Waktunya pun sangat singkat. Biaya tiket PP pun cukup mahal. Kalau dihitung-hitung biaya perjalanan lebih besar dari gajiku selama dua bulan. Mending uangnya dikasi ke aku untuk tambahan dana kuliah ya kan, hahaaa..”. Begitulah aku berbincang-bincang dengan diriku sendiri.

“Hellow Mar...aku berangkat besok siang yah, sudah booking tiket”. Wahh..aku terkejut membaca sms darimu. Serius rupanya sikawan ini mau datang. “Okay Mon. Sampai jumpa di bandara besok yah”. Yesss...antara perasaan sangat senang dan grogi aku membalas pesanmu bahwa aku akan datang menjemputmu ke bandara.

Sepanjang malam aku coba membayang-bayangkan gimana yah moment pertemuan kita di bandara. Wajahmu, dirimu seperti apa penampilannya. Apakah masih sama ketika terakhir kali jumpa di kosanku di Medan? Kira-kira apa yang akan kita perbincangkan selama beberapa jam pertemuan ini. Kemana dimana kita akan berbincang-bincang? Pikiranku sibuk menebak apa yang akan terjadi esok hari.

Yeee..Sabtu special, hari yang dinanti pun tiba. Hari ini akan bertemu dengan someone. Aku sebenarnya tidak cukup yakin dengan rasa hati ini walaupun sangat ingin segera dapat bertemu dirimu. Hingga menjelang siang aku sudah berangkat dari kosan di daerah Depok naik angkot menuju loket bus Damri di terminal pasar minggu.

Aku sudah memperkirakan waktunya. Tidak ingat persis jam tiket pesawatmu berangkat dari Medan. Yang jelas, aku tidak ingin membiarkan dirimu menungguku di bandara. Jadi aku percepat berangkat, mengingat kemacetan di perjalanan yang tidak bisa diprediksikan.

Kurang lebih satu setengah jam dari terminal pasar minggu ke bandara soeta. Lumayan lama lah. Setelah tiba dibandara aku melirik jam tanganku. Eh..ternyata masih lama waktunya pesawatmu landing. Sambil menunggu pesawatmu mendarat, aku coba menghubungi teman kuliah dulu yang bekerja di lokasi bandara. Setelah wisuda kami tidak pernah ketemu. Hanya berbincang melalui fb. Eehhh begitu ada moment yang pas aku call dia. Kami pun berbincang di salah satu cafe yang posisinya persis di samping pintu keluar penjemputan penumpang.

Asyik juga kami mengobrolnya bercerita tentang teman-teman dan moment mengasyikkan waktu kuliah di UNIMED. Tak terasa waktu berlalu hingga tiba-tiba ponselku berdering. Wah..si kawan sudah landing rupanya. Wow..wow..wow...dag..dig..dug..jantungku. Sambil bicara di ponsel memberitahu bahwa dirimu sudah tiba, aku memperhatikanmu diantara barisan penumpang yang melewati pintu keluar.

Oppsss..aku lambaikan tangan ke arahmu menunjukkan posisi ku berdiri saat itu. Dirimu mendekat menghampiriku. “Helo Mar, gimana kabarmu?”. Dirimu menyapa sambil tersenyum padaku. Begitu yang terucap darimu sembari kita berjabat tangan. Sedikit canggung dan grogi diriku seolah tak percaya ada dirimu di depanku saat itu.

Memandangmu..wahh..ganteng juga sikawan ini rupanya, begitu terlintas dalam hatiku. Hahahaa.. Sangat jauh penampilanmu dibandingkan waktu kita ikut acara TFT di Medan. Setiap acara waktu itu, dirimu selalu memakai baju yang sama yaitu baju kerja kantor. Karena sepulang dari kantor langsung menuju TKP. Jadi kesannya memang agak kurang fresh karena sudah lelah bekerja seharian.

Pertemuan kali ini sungguh membuatku tersepona ehh..terpesona. Pokoke kerenlah. Dengan satu tas ransel, tas tentengan kecil tempat ipad, kaos oblong (klo gak salah yah), celana jeans dan sepatu. Aduhh..secara fisik aku benar-benar mengagumimulah. Pria berbadan tinggi, ideal, ditambah senyum manis dengan lesung pipimu..dan suara lembutmu menyapaku. Wuhuuiii...sejuta rasa berkecamuk dalam hatiku.

 

 

Bersambung....

Kamis, 27 Januari 2022

Mengapa ku mencintaimu? (part- 2)

 


Komunikasi kita di fb semakin sering. Sepertinya ada sesuatu yang kurang jika satu hari itu tidak buka fb dan melihat pesan darimu. Aku yang sangat jarang online fb jadinya hampir setiap hari aku usahakan online penasaran dengan balasan pesan darimu. Hingga akhirnya kita lebih sering komunikasi melalui hape tolelot pada masa itu yang hanya bisa kirim pesan dan telepon.

Komunikasi sebagai teman biasa cukup lama kita jalani. Ntah bagaimana ceritanya waktu itu, kita akhirnya memutuskan untuk saling menguji hati. Mencoba menanyakan diri masing-masing apakah kita berdua saling tertarik untuk melanjutkan hubungan pertemanan ke hal yang lebih khusus sebagai teman special.

Aku berusaha menepis perasaanku menganggapmu sebagai seorang teman. Namun tak dapat kubohongi hatiku kalau aku butuh seorang teman. Seorang teman yang selalu menanyakan kondisiku yang akan menjadi pasanganku seumur hidup. Sendirian terus menjalani hidup tak enak rasanya. Disamping juga tuntutan orangtua yang selalu mengingatkan supaya jangan terlena dengan kuliah dan bekerja harus juga dipikirkan umur untuk berkeluarga.

Banyak hal yang menjadi alasan bagiku untuk tidak mau menjalin hubungan spesial denganmu walaupun kita sudah cukup akrab dan sering komunikasi. Pertama, karena kita berada di kota yang berbeda dan jaraknya cukup jauh. Biaya perjalanan yang tidak murah. Kedua, sejak lama memang aku ingin merantau melanjutkan hidup di ibukota dan tidak ingin kembali ke Sumatera. Ketiga, aku tidak terlalu mengenal dirimu, latarbelakang, keluarga, dll. Keempat, aku ingin calon teman hidupku tinggal bersama-sama dikota yang sama denganku.

Alasan-alasan itu benar-benar menjadi bahan pertimbangan bagiku. Aku membutuhkan waktu yang lama untuk memutuskan apakah akan mau menjadikanmu sebagai teman spesial atau tidak.

Sembari menguji hati dan menggumulkan dalam doa, kita tetap berkomunikasi seperti biasa. Tidak hanya melalui hp dan fb, email juga kita gunakan untuk saling berkirim surat dan foto. Hingga suatu hari dikau mengatakan akan datang ke ibukota Jakarta untuk mengunjungi diriku hanya satu hari satu malam saja karena kondisi pekerjaan yang membatasi waktumu.

Wow...serasa tak percaya diriku. Sabtu sore berangkat dari Medan. Hari Minggu besoknya kembali ke Medan. Hanya hitungan beberapa jam saja untuk menjumpai diriku di ibukota? Wow...apa gak terlalu membuang duit itu? Begitu yang terlintas dalam pikiranku saat itu. Karena pada masa itu harga tiket pesawat tergolong mahal lah bagi orang sepertiku anak kuliahan yang bergaji pas-pasan. 

Wahhh...gundah gulana bercampuraduk perasaanku kala itu..”Seriusnya si kawan ini mau datang ke ibukota hanya untuk menemuiku??? Gue bukan siapa-siapanya gitu loh. Hanya teman..!”, Aku heran antara percaya dan tidak percayalah.

 

Bersambung.....

Rabu, 26 Januari 2022

Mengapa ku mencintaimu? (part- 1)

 


Masih membekas memori itu. Sekitar sebelas tahun yang lalu. Ketika aku online di fb..opps..tiba-tiba ada pesan masuk di messanggerku. “Hi..apa kabar”. Begitu bunyinya. Owh..ternyata seorang teman yaitu dirimu. Aku tersenyum mengingat dirimu yang sudah lama tak pernah komunikasi.

Setelah kuperhatikan rupanya sudah ada sebelumnya beberapa pesan darimu. Menanyakan kabarku menanyakan keadaaanku. Ntah sudah berhari-hari atau berminggu-minggu atau berbulan-bulan pesan itu tak pernah kubuka. Makhlumlah masa itu kalau mau buka fb harus menggunakan modem, tidak seperti sekarang ini setiap saat bisa online di hp.

Itu awalnya. Komunikasi kita semakin sering meskipun hanya saat online saja di fb. Setelah sekian lama aku meninggalkan kota Medan saat terakhir jumpa dirimu bersama sahabatmu datang kekosanku untuk memberangkatkanku meraih impianku di ibukota.

Kekmanalah situasi perjuangan di ibukota membuatku melupakan segala yang dibelakangku...heheee. Kesibukan bekerja dan kuliah sangat menyita waktuku sehingga komunikasi pun dengan teman-teman sering terabaikan. Membuka fb pun sangat jarang.

Sangat senang rasanya membaca pesan darimu. Kita saling menanyakan kabar. Saling menanyakan pekerjaan dan kesibukan kita. Bercerita tentang kondisi teman-teman satu tim kita di TFT (Training for trainer) Perkantas (Persekutuan antar universitas) Medan. Masing-masing sudah sibuk dengan pekerjaannya. Ada yang sudah pergi merantau ke kota lain seperti diriku menjemput impian masing-masing.

Ehhh...makin lama makin asyik juga kita ngobrolnya, meskipun dibalasnya setelah dua atau tiga hari berikutnya..hahaaa. Setiap kali online fb, aku langsung membuka pesan masuk darimu. Senang juga yah..ada teman yang bisa diajak bercerita meskipun tak bertemu langsung.

Soal teman hidup menjadi topik perbincangan yang menarik. Saling bertanya saling mengejek..hahaaa. “Masa sih pemuda ganteng, sudah bekerja, sudah mandiri, baik hati, rajin menabung, belum punya pacar?” kira-kira begitu pertanyaan ku waktu itu. Dirimu juga menanyakanku mengapa belum punya pacar. Simple saja jawabanku..masih fokus kuliah. Heheee. Padahal memang karena belum ada pria yang cocok dihatiku walaupun sudah lirik sana lirik sini.

 

Bersambung...........

Selasa, 25 Januari 2022

Aku begini karena CINTA


Menyambung kembali tali semangat untuk menulis aku awali di sini. Selama dua bulan tiga hari api itu sudah redup, tetapi masih ada sisa arang yang sedikit membara. Ibarat memasak air minum dengan kayu bakar maka kayunya harus dikumpulkan kembali dikipas-kipas atau bahkan ditambahkan minyak tanah untuk mengusahakan supaya apinya dapat menyala kembali.

Kesibukan sejak natal dan awal tahun baru menyita hampir seluruh waktuku. Acara keluarga, pesta, anak-anak sakit, kunjungan ke rumah keluarga, dan pasca operasi kecil yang saya jalani sangat mempengaruhi kondisi fisik menjadi lemah. Ternyata pepatah yang mengatakan di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Jiwaku dan hatiku pun tidak ada semangat ketika tubuhku dalam kelemahan.

Namun aku tidak mau berlama-lama dalam kondisi itu. Aku coba berusaha menyemangati diri kembali. Melalui komunitas penulis yang saya ikuti di grup WA maupun grup facebook ada gairah yang kembali mengalir dalam diriku. Ada banyak hal yang memberikanku inspirasi. Aku diingatkan kembali betapa pentingnya kita mencintai oleh karena kita sudah dicintai. Sangat menarik berbicara tentang cinta apalagi menyambut valentine di depan mata.

Berbicara dan menulis tentang cinta saya rasa tidak ada habis-habisnya. Aku ada di dunia ini sebagai manusia adalah karena cinta. Cinta yang ada antara ayah dan ibuku sehingga aku bisa lahir. Cinta mereka yang merawat aku sejak kecil hingga aku dapat bertumbuh sehat bahagia hingga dewasa dan mandiri. Cinta mereka juga yang menghantarkan aku sebagai seorang pribadi dengan karakter perilaku yang seperti sekarang ini.  Oleh karena cinta mereka maka aku mampu menghadapi segala tantangan dan kesulitan apapun. Oleh karena cinta mereka juga maka aku juga menjadi seorang pribadi yang penuh cinta.

Cinta memberiku kekuatan dan semangat. Cinta literasi membuatku untuk mau kembali menyambung semangat yang sudah putus. Cinta kepada generasiku membuatku semangat memotivasi dan membimbing para anak muda supaya mau menulis. Cinta ku kepada bangsaku mendorongku untuk turut serta memperlengkapi agen-agen perubahan di negeri ini sebagai generasi emas Indonesia.

Cinta kepada Tuhan memberiku kemampuan untuk berkarya dalam keterbatasan. Cinta Tuhan yang tak terbatas kepadaku membuatku pantang menyerah dalam segala keadaan. Oleh karena cintaNya padaku maka aku ada seperti sekarang ini.

Benarlah lirik lagu yang mengatakan ‘semua karena cinta’. Mari kita para pembaca yang budiman melakukan segala kebaikan semata-mata adalah karena cinta.

 

Salam literasi

Silangkitang Tarutung

Selasa, 25 Januari 2022

Rabu, 22 Desember 2021

Happy mother’s day to inong

 

 


Hari ini tepatnya tanggal 22 Desember 2021, hampir semua media sosial diramaikan dengan ucapan spesial untuk para ibu seperti facebook, instagram, grup wa, dan status wa. Setiap tahun ditanggal yang sama dirayakan sebagai hari ibu. Setiap orang mengucapkan selamat hari ibu untuk ibunya masing-masing. Ada yang mengirimkan ucapan selamat melalui puisi ada juga yang mengupload fotonya bersama ibu yang dikasihinya.

Moment ini dijadikan sebagai hari spesial untuk mengingatkan semua umat manusia akan pengorbanan seorang ibu yang sudah mengandung, melahirkan dan merawat hingga si anak menjadi pribadi yang mandiri dan dewasa. Saya juga tidak mau ketinggalan. Tadi pagi saya dengan sigap mengambil hp saya mengucapkan selamat hari ibu di grup wa keluarga, menyampaikan selamat hari ibu untuk inong, adek, eda yang sudah menjadi seorang ibu.

Bagi saya sendiri moment hari ini adalah mengambil satu refleksi yang akan saya lakukan yaitu semakin mengasihi dan menyayangi inong yang sudah banyak berkorban bagi kami. Beberapa hal yang dapat saya lakukan adalah mendoakan inong, membantu dalam hal materi, melakukan komunikasi sesering mungkin, dan memberikan motivasi dan semangat untuk inong.

Inongku adalah seorang wanita yang sangat hebat dan tangguh. Aku ingin seperti dia, kelak juga dapat merawat dan membesarkan anak-anakku hingga kelak mereka mandiri dan dewasa. Satu yang menjadi harapanku kiranya inong diberikanNya umur yang panjang dan sehat-sehat menjalankan tugas, dan juga tetap sehat mendampingi among. Berdua sehat senantiasa menjalani masa tua semakin bisa menjadi berkat dan motivator di tengah masyarakat.

 

Salam semangat

Silangkitang_Tarutung

Rabu, 22 Desember 2021

 

Senin, 20 Desember 2021

Serunya makan jagal binda di akhir tahun

 


Gbr. Illustrasi memasak rendang daging kerbau

Bahasa Indonesia nya binda apa yah? Aku coba cek sama mba google tidak ada. Kalau ku artikan jagal binda adalah daging yang diberikan kepada anggota suatu perkumpulan karena turut serta memberikan kontribusi biaya untuk membeli satu ekor kerbau atau B2 yang akan dipotong dan dibagi-bagi kepada semua anggota di akhir tahun.

Biasanya anggota perkumpulan itu sudah di arahkan untuk mengumpulkan dana kontribusi sekian Rp per bulan sejak awal tahun. Pengurus akan mendata siapa saja yang akan ikut jadi anggota. Iuran yang sudah dibayar akan dicatat, dihitung dan ditotalkan menjelang akhir tahun. Lalu disepakatilah kapan bindanya dilakukan dan berapa timbangan berat kerbau yang akan dipotong.

Acara marbinda akhir tahun ini sebenarnya sangat seru. Selain mempererat persaudaraan, makan daging binda menjadi satu kesempatan untuk dapat menikmati daging terkhusus daging kerbau. Mengingat di kampung kami orang sangat jarang makan daging kerbau karena harganya lumayan mahal. Rasa dagingnya sangat enak dan lezat seperti daging sapi.  

Pada waktu yang telah disepakati, tempatnya dimana, jam berapa, para petugas yang telah dihunjuk untuk memotong kerbaunya akan berkumpul di sana. Termasuklah among kami pagi-pagi sudah harus cepat berangkat kesana untuk mengkoordinir acara pemotongan hingga selesai karena among kami adalah salah seorang pengurus.

Moment marbinda ini biasanya dilakukan tanggal 31 Desember menjelang pergantian tahun baru. Sebelum hari marbinda, inong sudah menyiapkan bumbu-bumbu yang akan dibutuhkan untuk memasak daging tersebut. Seperti cabai, andaliman, lengkuas, jahe, bawang merah, bawang putih, kelapa parut dan kelapa gongseng.

Begitu tiba hari H nya, aku dan saudara-saudaraku akan turun tangan untuk membantu inong menyiapkan acara menyambut tahun baru termasuk memasak daging binda special. Menggiling (menguleg) cabai dkk menggunakan tangan dan juga memarut kelapa untuk digongseng dijadikan bumbu kelapa dan sebagian dijadikan santan.

Tak sabar menunggu among yang akan pulang membawa daging binda. Adekku laki-laki yang turut serta menemani among marbinda akan datang lebih awal membawa sebagian dagingnya.  Daging ini dibawa lebih cepat supaya segera dimasak untuk menu makan siang.

Segera saja kami bergotong royong membantu inong memasak dan menyiapkan dagingnya. Sebagian ada yang dimasak rica-rica dan sebagian ada yang dibuat jadi soap. Wow...menulis ini jadi terbayang lezatnya bah. Terasa bumbu andalimannya saat mencicipi dagingnya yang hampir matang.  

Menjelang hampir mendekati jam makan siang, akhirnya among pun kembali ke rumah dengan membawa daging yang lumayan banyak. Wahhh..senangnya hati. Kekmanalah ya kami jarang makan daging kerbau. Jadi memang moment marbinda ini selalu dinanti-nantikan. Kami dapat makan daging sepuas-puasnya.

Saat makan siang betul lah memang rasa dagingnya begitu enak dan lezat. Dalam sekejap, daging yang dimasak tadi habis ludes, karena memang dimasak khusus untuk makan siang. Nah..untuk makan malam dimasaklah daging yang dibawa among.

Selesai makan siang, kami kembali bergotong royong untuk memasak daging yang dibawa among. Untuk memasak daging kerbau yang lumayan banyak biasanya inong memasak dengan cara direndang supaya bisa bertahan lama dan juga rasanya lebih mantap. Dagingnya juga lebih empuk dan cocok dimakan sedikit-sedikit.

Menjelang akhir tahun seperti ini memang aku selalu terbayang dengan suasana kecil waktu dikampung. Tentu, tidak sama lagi dengan yang dulu. Kalaupun ada daging binda, kemungkinan porsinya akan sedikit, karena among dan inong tidak bisa lagi makan daging porsi banyak untuk menjaga kesehatan.

Aku pun sekarang di usia 30-an sudah harus menjaga kesehatan. Tidak bisa lagi seperti dulu menikmati makan daging binda sepuas-puasnya. Bukan hanya daging kerbau, daging B2 juga melimpah di akhir tahun. Daging dari pesta, daging dari binda, dan juga daging yang dibawa oleh keluarga saat acara silaturahmi ke rumah.

Begitulah sepenggal kisah mengenang masa kecil marbinda di kampung.

 

 

Salam semangat

Silangkitang_Tarutung

Senin, 20 Desember 2021

Minggu, 19 Desember 2021

Serunya membuat kembang loyang bersama inong



Gambar illustrasi pembuatan kembang loyang

Satu kebiasaan yang selalu kami lakukan menjelang tahun baru adalah membuat kembang loyang. Kembang loyang ini adalah makanan khas yang harus ada setiap akhir tahun. Jika tidak ada kembang loyang rasanya seperti ada yang kurang..hehee. Di kampung kami, hampir semua keluarga membuat kembang loyang masing-masing.

Beberapa hari sebelumnya inong telah mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan seperti tepung beras, telor, gula pasir, vanilli dan minyak goreng. Selain itu aku juga membantu inong menyiapkan peralatan-peralatan yang akan digunakan seperti tuangan (alat pencetak kembang loyang), lidi dari bambu kecil untuk mengangkat kembang loyang dari kuali, kaleng tempat kembang loyang, panci yang agak besar, koran bekas, kuali dan kompor minyak.

Tepung beras ini adalah tepung yang kami olah sendiri dengan cara menumbuk beras yang sudah direndam selama beberapa jam. Aku dan saudara-saudaraku bergantian menumbuk berasnya dan mengayaknya sampai semua beras habis ditumbuk dan jadilah tepung. Lalu inong mencampur semua bahan-bahannya hingga menjadi adonan yang agak kental.

Pengerjaan pembuatan kembang loyang ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Biasanya kami mulai mengerjakannya pada sore hari dan selesai hingga dini hari menjelang ayam berkokok. Kami bergantian mencelupkan alat pencetak kembang loyang ke dalam adonan lalu memasukkan ke dalam kuali penggorengan yang sudah diisi dengan minyak goreng secukupnya.

Alat pencetaknya ada tiga yang kami gunakan dengan bentuk yang berbeda-beda seperti bentuk bunga bulat, bentuk bunga segitiga, dan bentuk bunga jajar genjang. Ketiga tuangan ini secara bergiliran dicelupkan ke dalam adonan.

Minimal harus ada dua orang yang stanby di dekat kompor untuk membuat kembang loyang ini. Satu orang mencelupkan tuangan ke adonan lalu ke dalam kuali dan satu orang lagi mengangkat kembang loyang yang sudah matang dengan menggunakan dua batang lidi bambu. Adonan yang ada di dalam panci harus selalu sering diaduk supaya adonannya tetap rata dan tidak mengental dibagian bawah oanci.  

Kembang loyang yang sudah matang terlebih dahulu dikeringkan minyaknya dengan cara menggoyang-goyang menggunakan lidi bambu tersebut, lalu dikumpulkan ke dalam panci yang sudah di alasi dengan kertas koran. Begitu kembang loyang sudah banyak terkumpul di dalam panci, kemudian disusun dengan rapi di dalam kaleng yang sudah disiapkan.

Inonglah yang bertugas menyusun kembang loyang ini ke dalam kaleng supaya tersusun dengan rapi. Aku dan saudara-saudaraku bertugas untuk mencetak kembang loyang sebanyak-banyaknya sampai semua adonan habis hingga menyisakan beberapa sendok saja karena sudah sulit dicetak dengan tuangan.   

Sisa adonan yang sedikit ini akan dibuat menjadi “kue tukkup”. Cara membuatnya adalah dengan menuangkan sedikit demi sedikit adonan ke dalam kuali bekas penggorengan kembang loyang lalu ditutup dan dibiarkan hingga matang. Jadilah kue tukkup yang rasanya enak.

Selama proses pembuatan kembang loyang tersebut tentu kami tidak mau hanya melihat saja kembang loyang yang sudah jadi. Tak sabar kami untuk menikmatinya karena kembang loyang ini dapat dimakan hanya sekali setahun..hahahaa.

Supaya kami tidak mengantuk dalam menyelesaikan kembang loyangnya, maka kami menikmati kembang loyangnya bersama dengan kopi dan teh manis.

Begitulah sepenggal kisah yang ku ingat puluhan tahun yang lalu menjelang akhir tahun seperti ini. Sudah lama kebiasaan itu tak ada lagi karena kami semua sudah merantau tinggal inong dan amonglah di kampung. Tidak ada lagi anak-anaknya yang membantu untuk membuat kembang loyang itu.  

Meskipun seperti itu, kenangan indah tetaplah dikenang.

Kembang loyang..oh..kembang loyang.....

 

Salam_semangat
Silangkitang_Tarutung

Minggu, 19 Desember 2021

 

 

  

Sabtu, 18 Desember 2021

Membongkar celengan bambu bersama inong

 

Gambar. Illustrasi bongkar celengan bambu

Masa saya kecil dikampung sungguh sangat jauh berbeda dengan kondisi sekarang. Zaman begitu cepat berubah dengan semakin berkembangnya teknologi. Kampung kami waktu itu belum ada listrik, jadi kami menggunakan lampu teplok yang terbuat dari kaleng bekas lalu di isi minyak tanah dan diberikan sumbu dari bahan kain bekas. Kalau sudah bangun pagi, hidung akan terlihat hitam karena asap dari lampu teplok tersebut. Heheee...

Hidup serba memanfaatkan apa yang ada di alam. Termasuk untuk memasak apapun harus menggunakan kayu bakar. Salah satu hasil alam juga yang bisa kami gunakan adalah bambu. Pada waktu itu masih banyak tumbuh bambu dikampung yang batangnya hampir seukuran dengan diameter gelas.

Di sekolah, guru-guru sering memberikan kami tugas untuk membuat kerajinan seperti dari bahan bambu ini. Salah satunya adalah membuat celengan dari bambu. Kala itu belum ada celengan seperti sekarang yang terbuat dari bahan pelastik dengan motif yang bagus seperti bentuk ayam, tabung, nenas, dll. Celengan bambu itu diberi sedikit lobang dibagian atasnya lalu diposisikan di sudut kamar dan dipaku pada salah satu tiang supaya tidak bisa dipindah-pindahkan.

Inong juga selalu mendorong kami supaya rajin menabung. Satu semboyan yang mengatakan “sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit” terbuktilah dengan rajin menabung. Dari sisa uang jajan yang diberikan inong setiap hari Minggu saat pergi sekolah minggu ke gereja, kami selalu mengusahakan untuk menyisihkan sebagian untuk dimasukkan ke dalam celengan bambu. Selain itu juga, jika ada saudara yang pulang dari perantauan, terkadang ada yang memberikan uang, itu pun kami masukkan ke dalam celengan bambu.

Tidak terasa memang, lama-lama celengan bambu itu penuh. Saat itu, uang logam yang masih banyak kami tabung yang harga nominalnya ada Rp 25,-, Rp 50,- dan Rp 100,-. Uang kertas ada juga tetapi sangat jarang. Jika ada uang kertas yang akan dimasukkan ke dalam celengan bambu, uangnya terlebih dahulu dilipat sampai bentuknya kecil supaya bisa muat di lobang bambunya.

Wahh..senangnya jika celengan sudah hampir penuh, berarti sudah mau dibongkar. Ye...kami akan bahagia menantikan moment itu, karena kami dapat melihat secara langsung hasil tabungan sebagai hasil dari kerajinan kami menabung. Biasanya mengetahui celengan ini sudah hampir penuh adalah ketika digoyang bambunya sudah berat, dan ketika dimasukkan uang ke dalamnya, suaranya uang logamnya akan terdengar hanya sebentar.

Akhirnya tibalah hari yang dinantikan itu. Kami akan berkumpul bersama dengan inong menyaksikan bersama-sama celengan bambu dibongkar dengan cara bambunya dibelah dua. Taddaa...begitu bambunya di belah uang logam berserakan dan bahkan ada yang berguling-guling. Yee...kami sanat senang dan gembira. Semua kami berlomba untuk menghitung bersama-sama hasil tabungan tersebut sembari membersihkan uang dari bekas abu yang ada di dalam bambu.

Biasanya celengan kami dibongkar menjelang mau masuk tahun ajaran baru, karena hasil tabungan kami itu akan digunakan inong untuk membantu perlengkapan sekolah seperti membeli baju seragam sekolah, pensil, dan buku. Yah..lumayanlah untuk bantu-bantu pengeluaran inong. Untuk mengganti celengan yang sudah dibongkar, kami juga akan mengambil bambu yang baru dan dibuat jadi celengan baru.

Saya sangat terinpirasi memang dengan moment-moment waktu kecil. Hingga sekarang ini saya harus mewajibkan anak saya untuk memiliki celengan tetapi tidak lagi menggunakan bambu seperti saya dulu. Sekarang sudah banyak dijual celengan dari bahan pelastik dengan harga yang murah dan terjangkau.

Gbr. Celengan anak saya

Dalam waktu dekat ini, celengan anak saya kemungkinan akan kami bongkar dan dieksekusi. Anak ku sudah tidak sabar lagi ingin melihat hasil tabungannya seperti apa. Saya juga sangat penasaran sebenarnya, sudah hampir empat tahun tak dibongkar. Sebenarnya belum penuh tadi sudah terasa berat jika diangkat. Saya juga sedikit kuatir dengan uang kertas yang ada di dalamnya mudah-mudahan tidak rusak karena bercampur dengan uang logam. Soalnya tabungan berbentuk bebek ini seringkali diangkat-angkat dan dimain-mainkan oleh mereka.

Asyikk juga itu, menanti hari bahagia itu, seperti saya dulu waktu kecil. Hahahaaaaa......!!!

Terimakasih inong, sudah mengajariku banyak hal.



Salam semangat
Silangkitang_Tarutung

Sabtu, 18 November 2021

 

 

Jumat, 17 Desember 2021

Inong tidak tenang ketika anaknya sakit



Ini adalah kisah nyata. Hampir semua ibu yang baik akan merasa kuatir dan sedih ketika anaknya sakit. Ibu akan berupaya bagaimana supaya anaknya segera sembuh dan sehat. Menggendong saat rewel, mengurut badan si anak, membujuk supaya mau makan dan minum, mengusahakan puding, membersihkan muntahnya ketika si anak mengeluarkan isi perutnya, bahkan rela tidak tidur sepanjang hari hingga malam demi menemani anaknya.   

Ketika si anak mengalami sakit, si ibu juga tidak akan dapat fokus untuk bekerja jika ibunya bekerja di luar rumah. Sebisa mungkin si ibu akan berusaha minta ijin tidak masuk kerja kepada pimpinannya ditempat kerja atau akan berusaha pulang lebih awal untuk melihat kondisi si anak.

Ternyata ibu tidak hanya kuatir ketika anak kecilnya sakit. Rupanya inongku juga masih merasa kuatir ketika anaknya yang sudah jadi seorang bapak mengalami sakit. Kondisi ini terjadi beberapa hari yang lalu ketika kami berkunjung ke kampung. Abangku yang pulang dari perantauan ternyata sudah beberapa hari mengalami demam. Dia memaksakan dirinya untuk pulang melalui jalur darat karena ada sesuatu hal.

Kondisi nya yang tidak sehat sedikit membuat seluruh keluarga kuatir membayangkan perjalanan sekitar tiga hari dua malam. Apalagi badannya sedang demam dan tidak fit, bisa saja di tengah perjalanan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi karena penyertaanNya lah akhirnya bisa tiba di bonapasogit dengan selamat.

Begitu tiba di kampung, inong langsung mengusahakan sop ayam kampung untuk jadi pudingnya. Selain itu juga mencari dimana yang ada menjual sop B1 untuk membantu memulihkan tenaga. Setelah bercerita panjang lebar tentang demamnya yang tak kunjung turun, inong menyarankan supaya besoknya pergi untuk cek darah ke RS, manatau ada indikasi penyakit seperti tipus.

Abangku ini sudah makan obat setiap hari, tetapi tak kunjung sembuh. Sekaligus juga dapat melakukan konsultasi dengan dokter tentang obat yang harus dikonsumsinya, karena ada dugaan obat yang dimakannya tidak cocok karena obat itu yang biasanya dibeli di warung-warung. Melihat kondisi anaknya yang kadang merasa menggigil, inong bolak-balik menyarankan supaya abangku pergi untuk cek darah. Inong juga menceritakan pengalamannya puluhan tahun lalu tentang gejala yang hampir mirip pada waktu anaknya yang paling kecil mengalami sakit tipus ketika masih anak-anak.

Inong juga mengkusut (urut) badan abangku ini dari kepala hingga kaki. Sesekali ia merasakan kesakitan ketika di urut. Mungkin saja masuk angin atau rematik atau otot-ototnya terlalu kaku karena lelah di perjalanan menyetir tanpa istirahat yang cukup. Begitu dugaan kami. Hingga dua malam berturut-turut abangku ini tidak bisa tidur dengan tenang, ia merasa kedinginan dan gelisah.

Saat bangun pagi hari, inong melihat kondisi abang yang belum ada perubahan, dia begitu kuatir, hingga terus menyarankan supaya cek darah ke RS. Namun abangku tidak mau dengan alasan barangkali masih tahap pemulihan atau merasa sakit setelah di urut. Inong pun selalu mengingatkan supaya banyak minum air putih, banyak minum sop ayam kampung dan sop B1, dan juga banyak makan.

Inong sangat mengkhawatirkan kondisinya, karena abangpun akan segera kembali ke pulau Jawa. Dengan kondisinya yang tidak sehat, sepertinya gimana begitu yah, sedikit kuatir jika dalam perjalanan ada gangguan. Akhirnya sehari sebelum keberangkatan, abangku ini pergi juga untuk konsultasi ke dokter, dan ternyata diberikanlah obat yang pas sehingga kondisinya sudah semakin sehat. Inong pun agak merasa lega lah melepas keberangkatan mereka.

Aku juga merasakan kuatir dan sedih ketika dua hari ini dua orang anakku mengalami demam dan flu. Aduhhh..rasa gelisah berkecamuk dalam pikiran. Belum lagi banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, suamipun sedang diluar kota. Walaupun sudah sering menghadapi situasi anak sakit, tetap saja aku merasa sedikit panik jika anak-anak tidak sehat. Bahkan tadi malam aku susah tidur memikirkan kondisi mereka.

Sebelum mereka tidur, aku coba untuk mengurut badannya dengan minyak urut, dengan harapan supaya mereka dapat tidur dengan nyenyak. Dan akhirnya mereka tertidurlah, namun aku masih belum bisa tidur memikirkan kondisi mereka. Hingga seharian ini, aku tidak fokus melakukan pekerjaanku karena memperhatikan mereka, apalagi si kecil yang rewel meminta untuk digendong.

Sudah begitulah kodrat seorang ibu yah, harus merelakan kenyamanan dirinya demi kenyamanan anak-anaknya. Hanya satu pintaku padaNya supaya aku diberi kekuatan merawat anak-anak yang dititipkanNya ini.

 

Salam_semangat

Silangkitang Tarutung

Jumat, 17 Desember 2021

 

  

Mengapa ku mencintaimu? (part-9)

  Senang, bahagia, sedih, lelah, lega semua rasa bercampur. Senang dan sangat bahagia yang kurasakan bisa berjumpa denganmu. Seseorang yang ...